Ujian Tengah Semester di Semester II Tahun Ajaran 2016-2017

25/03/2018 | 303 kali
Pendidikan

Ujian Tengah Semester di Semester II Tahun Ajaran 2016-2017: sarana mengevaluasi belajar santri

Oleh: Toni Regal, ME. Sy

(Kepala SMA Terpadu Darussalam)

Seringkali para siswa di sekolah ataupun para santri yang berada di Pesantren merasa tidak siap kalau sudah dihadapkan dengan yang namanya ujian. Mereka tidak siap secara materi maupun moril. Ujian di sekolah tidak bisa dihindari dan harus diikuti oleh seluruh siswa karena kegiatan dan waktunya sudah tercantum dalam kalender pendidikan di sekolah maupun di Dinas Pendidikan.

Ujian Tengah Semester yang diadakan di Pondok Pesantren Darussalam merupakan salah satu sarana untuk mengevaluasi belajar santri dan diperlukan oleh para guru juga untuk mengevaluasi apakah selama ini materi yang diajarkan sudah difahami oleh para santri secara menyeluruh ataupun tidak. Ujian Tengah Semester ini juga diperlukan sebagai bahan acuan kesiapan para santri dalam menghadapi Ujian Akhir Semester nanti.

Ujian Tengah Semester di Semester II Tahun Ajaran 2016-2017 dilaksanakan selama 6 hari terhitung dari tanggal 25-30 Maret 2017. Materi yang diujikan bukan hanya materi dari kurikulum Diknas saja, tetapi kurikulum pondok (KMI) juga diujikan.

Ada ungkapan yang sering terdengar para santri ketika waktu ujian dilaksanakan. Dan hal ini sering di ucapakan oleh bapak pimpinan dalam nasehatnya menjelang pelaksanaan ujian.

بِالْاِمْتِحَانِ يُكْرَمُ الْمَرْءُ أَوْ يُهَانُ

Yang artinya: “ Dengan ujian seseorang bisa dimuliakan atau dihinakan”.

Kalimat tersebut sangat sederhana tetapi mengandung makna yang sangat dalam. Bagaimana tidak, ketika seseorang lulus dalam ujian orang tersebut mendapat kesenangan yang luar biasa dan tentunya pujian akan datang dan terus mengalis kepadanya sehingga orang tersebut merasa mulia dan terpuji karena kelulusannya dalam ujian. Sebaliknya ketika seseorang tidak lulus dalam ujian orang tersebut tentunya akan mendapatkan kesedihan yang luar biasa besarnya dan merasa apa yang telah ia lakukan selama ini sia-sia belaka, tidak berguna dan bermanfaat. Orang tersebut merasa terhina dan malu dengan predikat yang disandangnya yaitu tidak lulus dalam ujian.

Perlu diketahui wahai santri-santri, sesungguhnya dengan datangnya ujian kita seharusnya senang dan gembira. Ujian tidak lagi menjadi momok yang sangat menakutkan. Insyaallah kita akan menjadi orang besar dengan ujian tersebut. Derajat kita akan ditinggikan lagi oleh Allah SWT. Insyaallah kita akan mendapatkan kemenangan yang besar dengan ujian tersebut. Kita patut meneladani Para Nabi dan Rosul. Bagaimana ujian yang mereka hadapi tidaklah kecil melainkan sangat berat dan besar yang kita pun belum tentu sanggup menghadapinya. Tapi berkat kesabaran dan keteguhan hati serta tawakkal kepada Allah SWT, mereka dapat menghadapi ujian yang berat itu dan derajat merekapun semakin tinggi dihadapan Allah SWT.

Satu hal yang ingin disampaikan kepada para santri dalam menghadapi ujian ini: Belajar, Berdoa dan Tawakkal. Belajar tanpa diiringi dengan doa berarti kita sombong. Berdoa tanpa dibarengi dengan belajar merupakan hal yang mustahil dan sia-sia. Maka dari itu belajar harus 100% dan berdoapun harus 100%.

مَعَ النَّجَاحِ فِى اِمْتِحَانِكُمْ 


Share:
Berita & Artikel Lainnya

Ujian Syafahi (Lisan)

Ujian Syafahi (Lisan) "Sarana Mengasah Mental Santri" oleh: Toni Regal, ME. Sy Selasa, ...